Jumat, 07 November 2014

Belajar Membuang Sampah di Jepang

Salah satu keunikan di Jepang
yaitu membuang sampah...hehehehe...
seperti kata pepatah Buanglah Sampah Pada Tempatnya...
yahh... pepatah itulah yang di pegang oleh orang-orang di Jepang  yang suka akan kebersihan...

Di Indonesia tidak lah ribet, kita hanya membuang sampah ke tempat sampah trus tukang kebersian lah yang akan ambil baru dah di buang ke Tempat Pembuangan akhir (TPA). GAMPANGKAN..!!

Beda lagi dengan di Jepang, negara maju ini menetapkan kebersihan di manapun tempatnya, membuang sampah harus ke tempat sampah,.. eeehhh.. tunggu dulu jangan asal buang yah...
di Jepang ada aturan dalam bembuang sampah...


Sampah Di Jepang Pada Umumnya di Bedakan, ada 4 jenis Sampah nih...
Sampah yang bisa dibakar contoh kertas, nasi basi, sayuran, kulit buah, cangkang telur dll (Moeru gomi)

Sampah yang tidak bisa dibakar yang terbuat dari aluminium / kaleng / botol (Kan gomi)

Sampah untuk botol plastik (Petto botoru),

Sampah botol kaca (botol bir dll) (Garasu)


Eeeee.. tunggu dulu untuk botol baik kaca / plastik jangan langsung di buang harus di cuci sampai bersih yah... atau kalo tidak petugas kebersian akan memulangkan lagi sampah yang kita buang tadi dan tidak akan di ambil sampai kita cuci sampai bersih...


Membuang sampah selain yang di atas tadi..
Contohnya nich... koran, majalah, kain bekas, atao barang elektronik misal TV, radio, kipas angin, AC, dll.
masyarakat Jepang punya tempat sendiri untuk membuang sampah tersebut...
tergantung tempat masing masing... dan tempatnya jauh loh...

Kalender Tempat Sampah..

Pasti banyak yang bingung sampah kok ada kalendernya... hahahah...
iya emang ada khususnya di Jepang nih gambarnya q ambil dari tetangga sebelah...GOMENE






Sabtu, 04 Oktober 2014

Aturan Lalu Lintas di Jepang

Kendaraan bermotor yang berjalan di jalan raya di wilayah Jepang secara garis besar dapat dibagi dua;
  1. kendaraan beroda disebut “kuruma” atau “sharyou” (車(車両)).
  2. Trem yang disebut “romen densha” (路面電車).
Kendaraan beroda masih dibagi lagi menjadi tiga bagian: kendaraan bermesin (自動車 (じどうしゃ))、kendaraan bermesin ringan atau sepeda motor ringan atau bebek (原動機付自転車(ゲンドウキ付き自転車)), dan kendaraan ringan (軽車両(けいしゃりょう)).



Kendaraan bermesin terdiri dari:
  • Kendaraan besar (大型自動車)、contoh: truk, tronton, mobil barang.
  • Kendaraan ukuran menengah (中型自動車), contoh: mobil pick up.
  • Kendaraan biasa (普通自動車)、contoh: mobil penumpang biasa.
  • Kendaraan besar khusus (大型特殊自動車), contoh: traktor, crane.
  • Kendaraan besar roda dua (大型自動二輪車), contoh: motor cc 500
  • Kendaraan roda dua biasa (普通自動二輪車)、contoh: motor cc 100-125
  • Kendaraan kecil khusus (小型特殊自動車), contoh: traktor sawah
Kendaraan bermesin ringan: contoh:
  • motor skuter (スクーター)、
  • skuter roda tiga (スリーター)、
  • motor bebek cc 75 (オートバイ).
  • Kendaraan jenis ini termasuk di dalamnya kendaraan dengan cc di bawah 50 dan 20cc, namun tidak termasuk kursi roda.
Kendaraan ringan; contoh:
  • sepeda (自転車)、
  • gerobak (リヤカー)、
  • gerobak kecil (荷車).
Selanjutnya, yang dimaksud pejalan kaki (歩行者(ほこうしゃ)): orang yang berjalan di trotoar, orang yang menggunakan kursi roda, dan orang yang menununtun motor dengan keadaan mati.
Untuk pejalan kaki, pada jalan yang tidak ada trotoarnya (歩道), maka pejalan kaki diharuskan melewati jalan khusus yang diberi rambu-rambu bernama (路側帯(ろそくたい)) atau area untuk jalan. Area tersebut umunya jadi satu dengan jalan raya hanya diberi garis dan rambu-rambu. Aturan melewati jalan tersebut adalah:
  • Areanya dibatasi bergaris putih lurus (白線(はくせん)/実線(じっせん))、 pejalan kaki dan pengendara sepeda bisa menggunakannya. Dan bila lebarnya lebih dari 0.75m, maka pejalan kaki dan sepeda boleh berhenti di dalamya.
  • Sementara itu bila garis pembatas nya terdiri dari garis putus-putus (破線(はせん))dan garis lurus berdekatan, maka pejalan kaki dan sepeda boleh lewat, namun tidak boleh berhenti di dalamnya.
  • Bila yg terdapat adalah dua garis lurus, maka yg boleh jalan di area itu hanya pejalan kaki saja. sementara sepeda tidak boleh jalan, apalagi berhenti di area itu.
  • Bagian jalan (道路)yang dapat dilewati kendaraan bermotor adalah bagian di area yang ada garis putus-putus di tengah jalan (車線(しゃせん))
Aturan di Lampu merah (灯火信号(とうかしんごう)).


  • Pada perempatan, bila lampu hijau (青色の灯火信号)menyala, maka untuk kendaraan mobil atau trem boleh jalan lurus, belok kiri, atau ke kanan.
  • Untuk sepeda dan kendaraan ringan (motor cc kecil), saat lampu hijau bisa jalan lurus, atau belok kiri langsung, namun untuk bisa belok kanan langsungada syarat-syaratnya.
    Sayaratnya yaitu bila jalan/jalur yang dilewati sepeda tidak dibagi ke dalam dua atau tiga jalur.
  • Bila jalan searah tersebut dibagi dalam dua atau tiga jalur maka, bila ingin belok kanan, kendaraan ringan tersebut harus belok dua kali, yaitu ke kiri dulu lalu mengikuti kembali lampu merah yang ada di hadapannya. Hal ini disebut (二段階右折(にだんかいみぎおり)).
  • Atau bila jalur hanya ada dua, umunya ada tanda berbentuk “panah lurus lalu belok ke kanan” artinya kendaraan ringatn harus belok dua tingkat. Umumnya tertulis pula (原付(げんつき))artinya untuk kendaraan ringan; motor cc kecil.
Bila lampu KUNING menyala:
  • Seandainya melaju dan sulit berhenti, maka tetaplah melaju.
Bila lampu MERAH menyala:
  • Berhenti, dan dilarang melewati garis batas berhenti.
  • Bila tepat di bawah lampu berwarna merah terdapat pula lampu tanda panah mengarah ke kanan, maka berarti saat lampu itu menyala mobil diperbolehkan belok ke kanan meski lampu di atasnya merah. Sementara kendaraan ringan tetap tidak boleh.

  • Sementara bilamana tepat di bawah lampu merah terdapat tanda panah warna kuning disertai arah, maka saat lampu menyala merah, hanya trem saja yang boleh jalan.
Saat sebuah perempatan diatur oleh polisi (警察官)atau pengatur lalu lintas 《交通巡視員(こうつうじゅんしいん)).
  • Bila polisi tersebut membentangkan kedua tangannya sejajar bahu, maka kendaraan yang berasal dan dari jalur yang searah dengan lengan polisi diperbolehkan jalan atau pose itu sama dengan lampu hijau.
    Sementara untuk kendaraan dari jalur yang berhadapan badan polisi atau membelakangi punggu polisi harus berhenti, atau sama artinya dengan lampu merah.
  • Bila polisi membentangkan kedua tangan ke atas membentuk huruf V, maka artinya seperti lampu kuning untuk kendaraan yang berasal dan dari arah yang searah dengan lengan polisi. Sementara yang berhadapan dan membelakangi punggung polisi harus berhenti.
  • Bila polisi menggunakan senter, bila polisi mengarahkan senter ke bawah membentuk huruf V terbalik, maka kendaraan yang searah lengan jalan, dan yang berhadapan dan membelakangi punggung harus berhenti.
  • Bila lampu senter diarah kan ke atas, maka kendaraan searah dengan lengan harus hati-hati seperti lampun kuning. Sementara yang berhadapan dan membelakangi punggung harus berhenti.

Biaya Hidup di Jepang

Biaya hidup di jepang apakah mahal...???
 
Biaya hidup di jepang di katakan mahal tergantung penilaian masing-masing, tergantung juga tempat tinggal kita di jepang baik di kota atau di desa.
Beberapa harga kebutuhan pokok [P] dan bukan pokok [GP]
  • [P] Harga beras 5KG rata-rata 200rb (atau 40rb/kg) – (di Indonesia: 4rb/kg).
  • [P] Harga nasi putih 200gram 10rb – (di Indonesia: 2rb).
  • [P] Harga sekotak bento biasa 50rb – ada juga yang 30rb, tapi nasinya cuman 3 ato 4 sendok (mungkin itu sebabnya mereka makan pake sumpit, biar bisa disuap berkali-kali)
  • [P] Harga mie instan 20-30rb sementara di Indo 2rb.
  • [GP] Harga ramen (mie) di depot 50rb (di Indo pangsit mie hanya 5rb ato 10rb).
  • [GP] Harga 1 roti sekelas bread story, 20rb (di Indo 10rb).
  • [GP] Harga softdrink/minuman kaleng 10rb.
  • [P] Harga satu buah apel: 15rb (satu biji, bukan 1 kilo).
  • [GP] Harga satu tandan pisang (isi 8 biji): 20rb (di Indo, kalo udah musim pisang malah dibuang2)
  • [P] Harga 8 batang cabe merah (yang udah keriting dan rada2 kering gak jelas), 15rb!! 
Beberapa contoh Bento :

Bento yang biasa ada di walayan atau convenient store, harga yang di tawarkan bisa Y300an sampai ribuan yen. paling enak belanja di swalayan macam takashimaya atau isetan, dan beli lah last minute di saat toko mau tutup. dijamin diskon! mulai dari diskon Y100 sampek di pangkas harganya bisa sampai max Y500 atau sekitar 50rebu rupiah. itu sudah termasuk sangat murah dengan aneka isi yang mewah.

lalu apa bedanya dengan makan yashinoya atau sejenisnya? biasanya bento box ini nasi nya sedikit dengan isi aneka rupa. buat yang makan nya dengan napsu besar (apalagi abis ngejar kereta :p) ya kurang cukup mungkin ya. soale nasinya dikit banget. tapi buat perut asia gw rasa ini pas banget lah. bento box ini juga banyak di jual station kereta JR, buat para komuter dimakan di kereta shinkansen pas lah, daripada beli makanan di kereta. 

bahkan ada yang bentuknya mirip besek selamatan gini :D isinya octopus ama nasi dan aneka lauk lain

yah itu sekilas info dari saya hehehe.. semoga bermanfaat....

Minggu, 16 Maret 2014

KIMONO DAN YUKATA

Teradang masih banyak orang yang masih bingung perbedaan antara pakaian Jepang bernama Kimono dan Yukata. Memang jika kita melihat sekilas akan nampak sama. Bahkan terlihat serupa. Tapi sebenarnya tidak sama. Nah, setelah saya membaca disana-sini dan mendapatkan sedikit penjelasan. Disini saya akan berusaha menjelaskan apa perbedaaan diantara keduanya.

Nah, dari kedua gambar ini, apakah kalian dapat melihat perbedaannya??

KIMONO



YUKATA



Perbedaan keduanya adalah :

► Berbeda dengan kimono yang disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal seperti pernikahan, upacara masuk sekolah, atau upacara kedewasaaan tahun baru, Yukata dipakai untuk kesempatan santai, seperti berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat matsuri atau menari di saat perayaan Obon.

► Berbeda dengan kimono yang berharga mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.

► Berbeda dengan kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran banyak dijual toko dengan harga terjangkau.

► Berbeda dengan kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.

► Berbeda dengan kimono yang dikenakan dengan pakaian dalam sebanyak dua lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang mengenakan Yukata hanya perlu pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

Itulah beberapa perbedaan yang telah saya pahami selama ini. Semoga dapat membantu kalian yang masih kebingungan menemukan perbedaan antara Kimono dengan Yukata.

YUKATA SECARA RINCI



Yukata (浴衣, baju sesudah mandi) adalah jenis kimono yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis. Dibuat dari kain yang mudah dilewati angin, yukata dipakai agar badan menjadi sejuk di sore hari atau sesudah mandi malam berendam dengan air panas.

Menurut urutan tingkat formalitas, yukata adalah kimono nonformal yang dipakai pria dan wanita pada kesempatan santai di musim panas, misalnya sewaktu melihat pesta kembang api, matsuri (ennichi), atau menari pada perayaan obon. Yukata dapat dipakai siapa saja tanpa mengenal status, wanita sudah menikah atau belum menikah.

Gerakan dasar yang harus dikuasai dalam nihon buyo selalu berkaitan dengan kimono. Ketika berlatih tari, penari mengenakan yukata sebagai pengganti kimono agar kimono berharga mahal tidak rusak karena keringat. Aktor kabuki mengenakan yukata ketika berdandan atau memerankan tokoh yang memakai yukata. Pegulat sumo memakai yukata sebelum dan sesudah bertanding.

Musim panas berarti musim pesta kembang api dan matsuri di Jepang. Jika terlihat orang memakai yukata, berarti tidak jauh dari tempat itu ada matsuri atau pesta kembang api.

Warna dan Corak : Bahan yukata pria umumnya berwarna dasar gelap (hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Wanita biasanya mengenakan yukata dari bahan berwarna dasar cerah atau warna pastel dengan corak aneka warna yang terang.

Walaupun umumnya dibuat dari kain katun, yukata zaman sekarang juga dibuat dari tekstil campuran, seperti katun bercampur poliester. Berbeda dengan kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang menjualnya, yukata siap pakai dalam berbagai ukuran dijual toko dengan harga terjangkau.

Corak kain yang populer untuk yukata wanita, misalnya bunga sakura, seruni, poppy, bunga-bunga musim panas. atau ikan mas koki. Karakter anime seperti Hamtaro, Pokemon, dan Hello Kitty populer sebagai corak yukata untuk anak-anak.

Cara Memakai : Hotel atau ryokan di Jepang menyediakan yukata untuk dipakai tamu sebagai pakaian tidur. Sebagai pakaian tidur, yukata bisa dikenakan begitu saja tanpa mengenakan pakaian dalam. Ketika dipakai pria untuk keluar rumah, yukata biasanya dikenakan tanpa kaus dalam, dan cukup memakai celana dalam atau celana pendek. Berbeda dengan kimono yang dikenakan dengan dua lapis pakaian dalam (hadajuban dan juban), sewaktu mengenakan yukata, wanita hanya perlu hadajuban (pakaian dalam lapis pertama). Alas kaki sewaktu memakai yukata adalah geta.

Yukata dikencangkan ke tubuh pemakai dengan obi yang lebarnya setengah dari lebar obi untuk kimono jenis lain. Di antara berbagai jenis simpul obi untuk yukata, bentuk simpul yang paling populer adalah simpul bunko yang berbentuk kupu-kupu. Bila tidak bisa membuat simpul, toko kimono menjual simpul obi yang sudah jadi dan tinggal disisipkan pada obi.

Wanita mengenakan yukata yang pas dengan ukuran tubuh pemakai agar terlihat bagus sewaktu dipakai. Seperti halnya kimono, panjang yukata selalu melebihi tinggi badan pemakai. Perlengkapan memakai yukata wanita: * rok panjang (susoyoke) sebagai pakaian dalam, berwarna putih polos. * pakaian dalam (hadajuban) * tali pinggang (koshihimo) untuk mengencangkan kain berlebih di bagian pinggang yang berasal dari kelebihan panjang kain pada bagian bawah * kain sabuk pengikat (datejime) untuk mengencangkan kain yang longgar di bagian perut * Obi untuk mengencangkan yukata ke badan.

KIMONO SECARA RINCI



Kimono (着物) adalah pakaian tradisional Jepang. Arti harfiah kimono adalah baju atau sesuatu yang dikenakan (ki berarti pakai, dan mono berarti barang).

Pada zaman sekarang, kimono berbentuk seperti huruf "T", mirip mantel berlengan panjang dan berkerah. Panjang kimono dibuat hingga ke pergelangan kaki. Wanita mengenakan kimono berbentuk baju terusan, sementara pria mengenakan kimono berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada di bawah kerah bagian kiri. Sabuk kain yang disebut obi dililitkan di bagian perut/pinggang, dan diikat di bagian punggung. Alas kaki sewaktu mengenakan kimono adalah zōri atau geta.

Kimono sekarang ini lebih sering dikenakan wanita pada kesempatan istimewa. Wanita yang belum menikah mengenakan sejenis kimono yang disebut furisode. Ciri khas furisode adalah lengan yang lebarnya hampir menyentuh lantai. Perempuan yang genap berusia 20 tahun mengenakan furisode untuk menghadiri seijin shiki. Pria mengenakan kimono pada pesta pernikahan, upacara minum teh, dan acara formal lainnya. Ketika tampil di luar arena sumo, pesumo profesional diharuskan mengenakan kimono. Anak-anak mengenakan kimono ketika menghadiri perayaan Shichi-Go-San. Selain itu, kimono dikenakan pekerja bidang industri jasa dan pariwisata, pelayan wanita rumah makan tradisional (ryōtei) dan pegawai penginapan tradisional (ryokan).

Pakaian pengantin wanita tradisional Jepang (hanayome ishō) terdiri dari furisode dan uchikake (mantel yang dikenakan di atas furisode). Furisode untuk pengantin wanita berbeda dari furisode untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan untuk furisode pengantin diberi motif yang dipercaya mengundang keberuntungan, seperti gambar burung jenjang. Warna furisode pengantin juga lebih cerah dibandingkan furisode biasa. Shiromuku adalah sebutan untuk baju pengantin wanita tradisional berupa furisode berwarna putih bersih dengan motif tenunan yang juga berwarna putih.

Sebagai pembeda dari pakaian Barat (yōfuku) yang dikenal sejak zaman Meiji, orang Jepang menyebut pakaian tradisional Jepang sebagai wafuku (和服, pakaian Jepang). Sebelum dikenalnya pakaian Barat, semua pakaian yang dipakai orang Jepang disebut kimono. Sebutan lain untuk kimono adalah gofuku (呉服). Istilah gofuku mulanya dipakai untuk menyebut pakaian orang negara Dong Wu (bahasa Jepang : negara Go) yang tiba di Jepang dari daratan Cina.

Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono.

Kimono Wanita : Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

* Kurotomesode Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi. Gadis mengenakan furisode

* Irotomesode Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.

* Furisode Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.

* Homongi Hōmon-gi (訪問着, arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.

* Iromuji Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.

* Tsukesage Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat dibawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.

* Komon Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.

* Tsumugi Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.

* Yukata Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

Kimono Pria : Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam. * Kimono paling formal berupa setelan montsuki hitam dengan hakama dan haori. Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.

* Kimono santai kinagashi Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

Kamis, 13 Maret 2014

BUNGA SAKURA

Bunga sakura adalah bunga nasional negeri Jepang. Bunga sakura di Jepang terdiri dari ratusan jenis, jenis yang umum yaitu Prunus × yedoensis (Yoshino Cherry, yang berwarna merah muda dan putih), Sakura Hutan (yang berwarna merah muda dan putih), yamazakura (yang berwarna putih), yaezakura (yang berwarna putih atau ungu kemerahan), shidarezakura (yang rantingnya jatuh seperti pohon willow, bunga berwarna merah) dan lain – lain.



Periode berbunga pada pohon sakura ini sangat pendek, yang di Jepang dikenal dengan suatu kata kiasan yakni “7 hari bunga sakura”, yang artinya bahwa sejak sakura mulai mekar lalu layu kembali waktunya kurang lebih 7 hari, dan keseluruhan pohon sakura sejak bunga pertama mulai mekar hingga seluruh bunganya layu kurang lebih memakan waktu setengah bulan.



Di Jepang, bunga sakura dianggap sebagai pembawa rejeki dan keberuntungan. Pada upacara pernikahan dan perayaan tradisional lainnya, seringkali diharuskan meminum sup bunga sakura yang direbus dengan kelopak bunga sakura dalam sebuah wadah keramik, yang maknanya menyerap makna keberuntungan yang terkandung di dalam bunga sakura. Musim mekarnya bunga sakura adalah pada bulan April, yang juga bertepatan dengan awal masuk sekolah, dan masuk kerja di Jepang, yang merupakan suatu titik balik terbesar dalam hidup manusia, oleh karena itu bunga sakura juga melambangkan masa depan yang penuh sinar cerah dan harapan.



Di samping itu, nama – nama jalan di berbagai pelosok di Jepang juga menggunakan nama – nama bunga sakura, tak terkecuali juga stasiun kereta api, nama kota, nama sayuran, teh, sup dan minuman. Daya tarik dan pengaruh bunga sakura sudah menyusup hingga ke dalam tulang sum – sum setiap aspek kehidupan pada masyarakat Jepang.